TANTANGAN PEMBELAJARAN PAUD DI MASA PANDEMI - Nur Fadilah, S.Pd

TANTANGAN PEMBELAJARAN PAUD DI MASA PANDEMI 



        Pada 2019 tepatnya pada semester ke 2 pembelajaran tiba-tiba dihentikan karena adanya wabah virus corona. Pada saat itu Indonesia mengalami pandemi yang sangat mencekam, masyarakat tidak diperbolehkan keluar rumah. Karena pandemi itu semua masyarakat tidak bisa pergi bekerja di tempat kerjanya, apalagi sebagai seorang siswa pelajar, secara terpaksa semua jenjang sekolah ditutup. Semua masyarakat harus bekerja dirumah dan belajar dirumah tanpa terkecuali.

        Masa pandemi berdampak sangat besar pada semua bidang, terutama pada bidang pendidikan. Pada bidang pendidikan sangatlah kebingungan, karena rencana yang sudah disusun untuk pembelajaran secara otomatis tidak dapat dipakai lagi. Pada masa sebelum pandemi, pembelajaran dilakukan dengan tatap muka dan tanpa batasan-batasan yang harus dipatuhi. Pada masa itu kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum 13 yang bertujuan mendorong perkembangan anak didik secara optimal sehingga memberi dasar kemampuan hidup sebagai pribadi yang beriman, produktif, inovatif dan kreatif serta mampu berkontribusi pada masyarakat. Peserta didik sangat antusias sekali datang kesekolah karena materi yang diberikan sekolah sangat menarik dan tidak membosankan. Dengan berbagai pengalaman belajar, bersosialisasi bersama teman dan suasana sekolah yang menyenangkan peserta didik semangat sekali beraktifitas setiap harinya.

        Masa pandemi berlangsung, semua rencana pembelajaran yang sudah dipersiapkan menjadi berubah. Pemerintah menghimbau pada bidang pendidikan, terutama pada Pendidikan Anak Usia Dini agar tidak memberikan tugas-tugas dirumah yang memberatkan. Dengan anjuran tersebut akhirnya sekolah membuat kurikulum darurat. Pada kurikulum darurat tersebut sekolah merancang, bahwa pembelajaran difokuskan pada kegiatan bersama keluarga. Karena pada masa pandemi ini anggota keluarga beraktifitas dirumah. Selain itu, sekolah juga memberikan materi-materi pembiasaan yang dilakukan dirumah terutama pada pendidikan karakter dan keagamaan. Pada pembiasaan diberikan ketika pembelajaran daring menggunakan zoom atau google meet agar peserta didik mengalami proses pembelajaran yang sesungguhnya, bukan hanya mengerjakan tugas saja. Untuk anak didik yang mempunyai keterbatasan media dan waktu, misalnya orangtua yang bekerja dan tidak ada yang mendampingi atau mempunyai saudara yang banyak sehingga bergantian menggunakan handphonenya, mereka meminta waktu malam untuk belajar, sebagai pengajar yang ingin anak didiknya tetap dapat belajar di masa pandemi, maka apapun akan dilakukan seorang pengajar.

        Dalam pelaksanaannya, pembelajaran daring tidaklah semudah yang dibayangkan. Faktor kurangnya semangat anak dan kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi anak menjadi tantangan dalam pembelajaran daring ternyata tidak semua orang tua bisa seperti guru di sekolah. Banyak orang tua tidak telaten, anak biasanya malah dibentak-bentak yang juga efeknya kurang bagus. Mungkin karena keadaan situasi dan kondisi, anak jadi kurang semangat di rumah sehingga jenuh, tidak ada teman-teman, dan tidak ada yang memotivasi.  

Tidak bisa dipungkiri, salah satu sifat anak-anak adalah mereka sangat mudah untuk berubah pikiran dan berubah suasana hatinya. Hal tersebut dikarenakan anak usia dini belum bisa mengontrol diri dengan baik. Kebanyakan dari mereka belum bisa berkomunikasi dengan lancar dan menyampaikan apa yang dirasakan.

        Selain permasalahan pada anak, seorang pengajar juga mengalami kesulitan dalam hal pengamatan dan penilaian. Selama pandemi Covid-19, pengamatan hanya bisa dilakukan dengan melihat video dan foto yang dikirimkan oleh orang tua murid. Hal ini menyebabkan aktivitas pengamatan yang dilakukan oleh guru menjadi sangat terbatas.

        Dengan adanya hambatan dan kekurangan dalam pembelajaran daring maka pihak sekolah penyusun kurikulum darurat yang didalamnya bukan hanya pembelajaran dalam aspek kognitif yang menekankan anak pada pembelajaran membaca, menulis, berhitung saja, tapi hendaknya dalam kurikulum tersebut juga memberikan pengalaman dan kreatifitas yang menyenangkan agar anak tidak merasa bosan belajar dirumah. Dan seorang guru juga harus bisa membawa suasana yang menyenangkan dan memicu semangat peserta didik saat zoom atau google meet berlangsung. Pada keesokan harinya peserta didik akan antusias dan merasa penasaran pembelajaran apa yang akan disampaikan pengajar hari selanjutnya. Selain itu guru juga diharapkan mampu menjaga komunikasi dua arah dengan orang tua dan anak didik secara regular agar pembelajaran bisa berlangsung dengan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Minat Belajar Anak Usia Dini pada Pembelajaran Online (Daring) - NUNUN FALIYAH, S.Pd

Suka Duka Belajar Daring Saat Pandemi Covid-19 Di Lingkungan Pendidikan Sekolahku - Yeny Asmawati,S.Pd