Pandemi Bukan Penghalang - Endang Kusumawati, S.Pd
Pandemi Bukan Penghalang
Pertengahan bulan Maret 2020 surat Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik turun secara resmi untuk meliburkan sementara anak didik karena ledakan jumlah masyarakat Gresik yang terpapar virus Covid 19. Awalnya sih merasa senang, bisa istirahat sejenak dari rutinitas sebagai guru TK dengan segala aktivitas belajar mengajar juga keadministrasiannya. Tidak pernah mengira bahwa surat berikutnya turun lagi dan menyatakan kegiatan belajar mengajar tidak bisa dilakukan disekolah secara tatap muka karena dilarangnya kerumunan dalam jumlah besar, apalagi mengingat usia anak TK yang masih belum bisa mematuhi sepenuhnya aturan prokes pemerintah. Ternyata tidak hanya dunia pendidikan yang terkena dampak Covid 19, hamper semua sector dilarang melakukan rutinitasnya sebagaimana mestinya.
Liburpun berakhir, Berganti dengan pembelajaran secara online yang akhirnya kita kenal dengan sebutan Daring. Sangat butuh waktu untuk beradaptasi dengan semua aplikasi penunjang untuk kegiatan pembelajaran secara daring seperti zoom dan googlemeet. Apalagi megingat masyarakat disekitar sekolah saya bisa dibilang lemah dalam IT dan ekonomi menengah kebawah, yang mana sebagian besar masyarakatnya sebagai buruh pabrik kayu dengan gaji di bawah UMR. Sehingga pada saat sosialisasi pembelajaran dengan daring, sangat tidak bisa menerima dengan alasan anak tidak pegang HP sendiri, rata-rata HP dibawa orang tua kerja. Adapun beberapa yang anak yang ibunya tidak bekerja tapi kesulitan install aplikasinya. Akhirnya, video call menggunakan Whatsaap menjadi sebuah jalan termudah untuk melakukan pembelajaran secara daring, meskipun guru harus mengulang beberapa kali materi yang sama dalam sehari karena jumlah peserta VC yang terbatas 4 anak setiap sesinya. Jam kerja guru jadi semakin panjang karena anak yang orang tuanya bekerja dipabrik mulai pagi hingga petang melakukan VC nya pada jam malam di atas pukul 18.00 WIB.
Cibiran demi cibiran terdengar seputar guru. Didunia nyata juga maya ramai mempergunjingkan kinerja guru di masa pandemi ini. Para orang tua mulai mempertanyakan perihal pembayaran SPP, karena sekolah saya adalah sekolah swasta yang mana semua bentuk biaya operasional sekolah tergantung pada pembayaran SPP, mereka mempertanyakan tentang peran guru yang dianggap libur karena tidak pergi kesekolah dan tidak mengajar, malah orang tua yang semakin merasa direpotkan untuk menemani anak belajar dirumah, tapi para guru tetap dibayar dengan penarikan uang SPP. Miris dan sedih membaca semua asumsi di sosmed tentang guru, mereka tidak melihat upaya kita yang rela malam-malam mengganti kostum rumahan dengan kostum dinas untuk melakukan VC. Menyiapkan dan mendistribusikan media pembelajaran selama seminggu kedepan berkeliling dari desa ke desa sebagai materi saat anak-anak belajar di rumah dan mengambilnya kembali di akhir minggu.
Penyampaian materi pembelajaran kurang maksimal saat menjelaskan kepada anak diwaktu kegiatan VC berlangsung, apalagi yang berhubungan dengan motorik, seni dan pengembangan nilai karakter sedikit, anak rata-rata kurang bisa fokus karena suara berisik dari sesame teman atau lingkungannya ketika VC. Kita sebagai guru teap berusaha dan mencari berbagai cara demi tersampaikannya materi pembelajaran pada anak didik. Hingga akhirnya youtube menjadi salah satu pilihan kita dalam menyampaikan materi, lebih muda diakses karena semua orang sudah kenal youtube dan dapat disimak kapan pun orang tua ada waktu luang untuk menemani anak-anak belajar.
Apapun yang terjadi di muka bumi ini semua sudah diatur oleh yang khalik, tetap berfikir positif selama beradaptasi dengan keadaan baru yang mengharuskan semua serba online, pasti ada hikmah dibalik ini semua. Untuk saya pribadi, pandemic itu menjadi lebih banyak waktu luang diam dirumah sambal menunggu jam VC bersama anak didik. Banyak iklan juga info seminar ataupun kelas online yang bisa diikuti selama pandemi. Ada yang bermaterikan seputar pembelajaran dan seperangkatnya atau kelas umum lainnya. Semua bisa diikuti tanpa harus datang ketempatnya seperti saat offline. Saya memilih mengikuti seminar dan kelas online sebagai pengisi waktu dan tetap produktif selama pandemi.
Salah satu kelas online yang saya ikuti dan tekuni karena dapat menunjang penyampaian materi pembelajaran selama pandemi adalah kelas Desain Grafis dan Editing Vidio. Yang berguna untuk membuat lembar kegiatan digital dan editing video untuk youtube sekolah. Kelas demi kelas saya ikuti, materi demi materi tentang desain dan editing video saya pelajari, hingga pada titik saya dipercaya oleh seorang founder kelas Canva untuk menjadi moderator dan membantu memberikan materi desain Canva saat kelas online. Karena sudah merasa klik dengan foundernya meski berjarak Bogor – Gresik dan hanya komunikasi lewat WA, saya pun diajak gabung lagi saat kelas online Editing Vidio dengan Kinemaster. Sebuah dunia dan ilmu baru buat saya yang mana awalnya sangat tidak mengenal dunia perdesainan secara digital. Teman pun semakin banyak dari berbagai penjuru di Indonesia karena kelas online ini. Tak hanya itu, rizki pun datang dari pandemi ini. Permintaan pembuatan video undangan digital, desain twibbone, brosur dan banner mulai berdatangan. Sebuah jalan rizki yang datang dari jalan lain selain profesi sebagai guru dan karena pandemi. Dampak untuk pembelajaran pun sangat signifikan, anak-anak lebih semangat dalam menerima materi karena video dan lembar kerja digital yang didesain menarik hingga anak tidak merasa jenuh.
Jangan jadikan keterbatasan kita sebagai alasan untuk tidak bergerak dan menyerah pada keadaan. Mulailah darimana kamu berdiri, gunakan apa yang kamu punya dan lakukan apa yang kamu bisa. Jika kamu menginginkan sesuatu dlam hidupmu yang tak pernah kamu punya, kamu harus melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan.
Komentar
Posting Komentar