Pengalaman Belajar Pada Masa Pandemi : Sekolah daring, guru pusing, orang tua pening - Siti Umi Ulfa, S.Pd
Pengalaman Belajar Pada Masa Pandemi : Sekolah daring, guru pusing, orang tua pening
Covid-19, virus ini telah merubah segalanya. Tidak hanya jarak antar manusia yang harus diperhatikan. Kegiatan sosial harus memiliki waktu-waktu tertentu. Budaya silaturrahim pada saat hari raya harus ditunda. Bahkan, dunia pendidikan pun terkena imbasnya. Bingung? Aneh? Ada yang mengganjal? Itulah yang dirasakan oleh semua guru dan murid yang ada di seluruh belahan dunia. Tidak terkecuali negara kita, Indonesia.
Pada awalnya, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan tatap muka. Saling bertegur sapa antara guru dan murid. Guru bisa mentransformasikan ilmu kepada muridnya secara langsung. Murid-murid mendengarkan dengan seksama arahan dan bimbingan dari guru. Ada yang mendengarkan dengan serius, ada yang mendengarkan sambil bercanda dengan temannya, bahkan ada juga yang merengek minta pipis atau buang air besar.
Hiruk-pikuk di sekolah yang seperti itu seakan sirna ketika badai Covid-19 datang. Para guru tak lagi mendengar suara anak-anak didiknya. Saat mereka tertawa lepas ketika bermain pada saat jam istirahat, saat mereka menjawab pertanyaan dari guru di kelas (walaupun terkadang jawaban anak didiknya salah, lucu, nyeleneh, pastilah guru memakluminya). Bahkan, tidak jarang suara tangisan dari anak-anak ketika jatuh pada saat berlari-lari di lapangan.
Musyawarah pun diadakan untuk mencari jalan keluar dari semua masalah ini. Mulai dari pengambilan tugas di sekolah (akan tetapi pengerjaannya di rumah). Pemberian tenggang waktu yang se-elastis mungkin pun juga sudah diberikan oleh guru. Akan tetapi, terkadang masih ada saja yang terlambat mengumpulkan. Dan tidak sedikit juga malah yang tidak mengerjakan. Alasan tugasnya hilang, sakit, rewel, atau bahkan ada juga yang beralasan pulang ke desa, dan tugasnya tertinggal di rumah yang berada di kota. Beberapa hal inilah yang terkadang membuat bingung guru di sekolah. Bagaimana bisa menilai kemampuan anak didik, jika anak didiknya tidak mengumpulkan tugas?
Pemberian tugas dan materi melalui daring atau online pun menjadi solusi berikutnya yang diambil guru untuk menghadapi semakin kencangnya badai pandemi Covid-19. Guru sudah menyusun jadwal pemberian tugas dan materi. Menyusun jadwal untuk video call dengan murid-murid (agar murid-murid bisa bertegur sapa dengan gurunya walau tangan tak bisa berjabat). Akan tetapi, pro dan kontra terus berlanjut. Ada yang mengeluhkan kalau handphone yang dipakai tidak bisa mengakses internet. Ada yang mengeluhkan buruknya sinyal. Bahkan ada yang mengaku tidak punya handphone. Para murid-murid yang bisa mengikuti kegiatan pembelajaran secara online melalui video call pun juga tidak luput dari permasalahan mereka. Ada yang mengikuti kegiatan pembelajaran sambil mengantuk (karena baru saja bangun tidur). Ada yang mengikuti kegiatan pembelajaran sambil ditemani orang tuanya (karena kalau tidak ditemani, maka anaknya akan bermain-main ataupun tidak mendegarkan gurunya). Bahkan, juga ada yang mengikuti kegiatan pembelajaran hanya suaranya saja (sedangkan anaknya sedang menonton TV).
Lika-liku pembelajaran secara daring atau online pun akan terus berlanjut selama masih derasnya badai pandemi Covid-19 di Indonesia. Susah senang pun juga harus dialami guru beserta anak didiknya. Tidak sedikit juga masyarakat yang mencibir kinerja guru. “Enak sekali guru, tidak masuk sekolah, mengajarnya dari rumah, akan tetapi tetap menerima gaji”. Mungkin itulah selentingan-selentingan yang sering dikumandangkan masyarakat sekitar yang selalu mengkritisi kinerja guru. Padahal, mereka tidak tahu. Betapa susahnya guru menyusun materi pembelajaran online. Betapa bingungnya guru untuk menentukan nilai berapa yang pantas diberikan kepada anak didiknya. Kalau murid tersebut mengumpulkan tugas, mungkin masih sedikit bisa membantu guru untuk menentukan nilainya. Akan tetapi, untuk murid-murid yang tidak mengumpulkan tugas? Tentulah hal ini yang sangat membuat guru berpikir keras untuk memberikan nilai. Karena tidak mungkin guru memberikan nilai yang ngawur kepada anak didiknya.
Pandemi Covid-19 mulai mereda (walaupun sedikit redanya). Pemerintah mulai mengkaji ulang tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi. Pemberlakuan piket kepada guru pun mulai diterapkan (walaupun tidak semua guru yang piket di sekolah). Awalnya, pemerintah menerapkan 25% WFO (Work From Office) dan 75% WFH (Work From Home). Karena pemerintah pastinya juga melihat terlebih dulu perkembangan badai pandemi Covid-19 yang sedang melanda. Seiring berjalannya waktu, badai pandemi Covid-19 kian mereda. Angka pasien Covid-19 kian turun. Dan pemerintah pun mulai mengambil langkahnya untuk menambah porsi WFO atau WFH guru di sekolah.
Sampai saat ini, walaupun badai pandemi Covid-19 masih ada (bahkan ditemukan varian baru, Omicron). Pemerintah mengambil langkah tegas dengan menerapkan 100% masuk sekolah bagi guru beserta anak didiknya. Karena jika dibiarkan terus menerus pembelajaran secara daring atau online, maka anak didik pun terkadang kurang bisa menguasai materi yang disampaikan oleh guru.
Semoga pandemi Covid-19 di Indonesia segera berakhir. Indonesia kembali normal. Semua sektor segera bangkit dan pulih. Sektor ekonomi, sektor sosial, dan bahkan sektor pendidikan. Sembuhlah duniaku. Bangkit dan pulihlah Indonesiaku!
Komentar
Posting Komentar